Tuesday, 23 February 2016

Ketika Si Sulung Akan Punya Adik...

Hamil anak kedua ini mengharuskan saya mencari lagi referensi kehamilan. Maklum, anak sulung saya sudah berusia 6 tahun. Sudah agak lupa do dan don't pada saat hamil. Tapi fokus perhatian saya kali ini pada Si Sulung yang selama 6 tahun menjadi tumpuan satu-satunya perhatian keluarga kecil kami. 
Si Sulung yang selama 6 tahun ini menjadi anak tunggal, harus saya persiapkan mental dan fisiknya. Pengkondisian sudah saya lakukan sejak saya dinyatakan positif hamil lagi. Berulang kali saya mengelus kepalanya sambil berkata: "Ini anak kesayangan Ibu yang pertama. Yang kedua masih di perut.. Nanti dua-duanya akan selalu jadi kesayangan. Abang sayang Adik dan Adik juga sayang sama Abang. Berdua sama-sama nurut Bapak Ibu yaa..". Dan ia pun senang dengan perlakuan itu. 
Di lain waktu ketika Si Sulung sedang asyik bermain, saya pun tak segan untuk berkata: "Wah asyik ya nanti kalau Adik sudah lahir, bisa bermain berdua. Pasti seruuu!" Atau ketika sedang di swalayan atau toko mainan: "Kalau Adik sudah lahir, nanti belinya harus dua ya. Biar tidak berebut. Tapi kalau uangnya tinggal sedikit, belinya satu aja. Terus untuk barengan berdua.". Dan tanpa segan ia pun menanggapi: "Nanti Abang mau warna merah. Kalau Adik ya terserah Adik. Iya kan, Bu.".
Hobby saya mengabadikan moment anak dalam bidikan kamera maupun rekaman video ternyata bermanfaat dalam mempersiapkan Si Sulung menyambut hadirnya adik. Untungnya dokumen itu saya simpan secara lengkap sejak ia masih di dalam kandungan. Saya terus menunjukkan foto-foto dan rekaman tersebut kepada anak sulung saya. Saya katakan padanya bahwa ia pernah ada di perut ibu juga. Setelah di perut, ia pernah kecil juga seperti waktu adik baru lahir. Dengan begitu saya berharap ia paham, bahwa ia sudah besar dan sekarang giliran adiknya ada di perut.
Ah indahnya membayangkan semua berjalan sesuai rencana, Kakak Adik bisa saling rukun. Semua itu bisa tercapai ketika saya, suami dan orang-orang di sekitar kami bisa adil membagi perhatian dan kasih sayang. Jangan sampai Si Sulung yang selama ini merupakan pusat perhatian, tiba-tiba menjadi terabaikan. Saya tidak ingin Si Sulung menjadi berubah menjadi pemurung atau justru hiperaktif untuk menarik perhatian, karena hadirnya adik yang mengalihkan semua perhatian orang dari hidupnya.
Satu hal yang akan saya lakukan ketika adiknya lahir nanti adalah menyiapkan banyak kado untuknya. Ini penting untuk mengantisipasi datangnya kado bertubi-tubi ataupun perlengkapan bayi yang kami beli sendiri, yang kesemuanya ditujukan untuk adiknya. Saya tidak mau ia cemburu karena kado-kado itu. Hal sepele, tetapi sepertinya harus diperhatikan agar hatinya tidak terluka.
Sejauh ini, Si Sulung menunjukkan kalau ia menyayangi adiknya. Setiap hari berkali-kali ia mengelus dan mencium perut saya. Tak lupa ia pun ikut mencium saya. Tak ketinggalan, dalam setiap obrolannya selalu ingat akan adiknya. Ia pun sudah punya rencana kelak kalau adiknya sudah lahir, mau dibelikan mainan apa saja. Semoga saja ia akan terus sayang adiknya.