Thursday, 17 October 2013

Menyikapi Inflasi (Pernah dimuat di Batam Pos 18 Juli 2013)

http://batampos.co.id/2013/07/18/menyikapi-inflasi/

INFLASI adalah suatu proses kenaikan harga yang saling mempengaruhi mekanisme pasar dan berlangsung secara terus-menerus. Indonesia adalah salah satu negara yang tak asing dengan inflasi. Setali tiga uang, setelah pengumuman kenaikan gaji biasanya diikuti oleh naiknya harga-harga di pasaran. Akibatnya meskipun gaji telah dinaikkan, nilai uang malah mengecil.
Adapun jenis-jenis inflasi yang telah dikenal ada empat, yaitu: Pertama, inflasi ringan. Inflasi ini terjadi ketika kenaikan harga yang ada kurang dari 10% dalam masa satu tahun. Kedua, inflasi sedang. Inflasi ini terjadi ketika kenaikan harga yang ada berada pada kisaran 10%-30% dalam masa satu tahun. Ketiga, inflasi berat. Inflasi ini terjadi ketika kenaikan harga yang ada berada pada kisaran 30%-100% dalam masa satu tahun. Keempat, hiperinflasi. Inflasi ini terjadi pada keadaan ekonomi yang sangat buruk, yaitu keadaan terjadinya kenaikan harga yang melampaui angka 100% dalam setahun.
Inflasi yang berdampak lesunya ekonomi ini perlu disikapi oleh semua kalangan demi bangkitnya ekonomi. Pemerintah perlu bersikap melalui kebijakan moneter yang dapat diambilnya, diantaranya penetapan suku bunga, pengaturan jumlah uang yang beredar, kebijakan fiskal. Sedangkan masyarakat perlu bersikap dengan menekan pola hidup konsumtif.
Pemerintah hendaknya mengambil kebijakan yang berimbas pada stabilnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Contohnya dengan penetapan suku bunga bank yang tinggi, masyarakat akan cenderung untuk menabung maupun untuk menghindari kredit bank. Akibatnya, uang yang beredar di masyarakat akan terserap di bank sehingga nilainya akan membaik.
Penetapan kebijakan fiskal juga mampu mengatasi inflasi. Contohnya penetapan bea ekspor yang lebih rendah daripada bea impor. Dengan penetapan ini masyarakat akan terdorong untuk melakukan ekspor. Akibatnya masyarakat cenderung akan membeli faktor-faktor produksi untuk memenuhi kuota ekspor tersebut. Hal ini berpengaruh pada kebangkitan ekonomi melakui terserapnya tenaga kerja, juga pada berkurangnya uang yang beredar di masyarakat untuk membeli faktor-faktor produksi.
Kebijakan pemerintah dalam distribusi barang dan jasa juga berpengaruh pada inflasi. Pemerataan distribusi barang dan jasa di masyarakat akan membuat harga barang dan jasa tersebut cenderung stabil sehingga kenaikan harganya pun dapat ditekan. Kelangkaan barang dan jasa akan memicu berkurangnya supply barang dan jasa tersebut. Supply yang rendah menyebabkan kenaikan harga. Jadi, supply barang dan jasa yang stabil juga akan menyetabilkan harga. Kestabilan harga inilah yang dapat menekan laju inflasi.
Konsumerisme yang berkembang di masyarakat dewasa ini cukup memprihatinkan. Tingginya sifat ini mengakibatkan permintaan barang-barang konsumtif di pasar meningkat. Sesuai hukum ekonomi yang berlaku, tingginya demand suatu barang akan mengakibatkan harga barang tersebut mengalami kenaikan. Padahal, kenaikan satu barang biasanya mempengaruhi kenaikan harga barang lainnya. Apabila hal ini terjadi terus-menerus, akan mengakibatkan terjadinya inflasi.
Untuk menyikapinya, masyarakat perlu memperoleh edukasi hidup hemat, tidak konsumtif dan giat berinvestasi. Pola hidup hemat akan mendorong masyarakat untuk melakukan saving sehingga uang yang beredar di masyarakat akan berkurang. Akibatnya uang yang beredar berkurang, nilai uang akan menguat sehingga laju inflasi pun dapat ditekan.  Pola hidup tidak konsumtif akan menurunkan demand terhadap barang-barang konsumtif. Apabila demand-nya menurun, secara otomatis harganya pun akan turun sehingga laju inflasi akan teratasi.
Semangat berinvestasi di masyarakat harus terus dikembangkan. Hal ini akan mempengaruhi terserapnya uang yang beredar ke arah sektor-sektor investasi. Berkurangnya uang yang beredar di masyarakat akan berakibat membaiknya nilai uang. Atau dengan kata lain inflasi sedikit demi sedikit teratasi.
Edukasi pola hidup melawan konsumerisme ini bukan perkara yang mudah. Hal ini karena bertentangan dengan berbagai iklan persuasif yang beredar di masyarakat. Masyarakat Indonesia terlalu sering dijejali iklan-iklan persuasif barang-barang konsumtif. Belum lagi persuasi prestise yang terus dikembangkan ketika membeli barang tertentu. Masyarakat yang haus akan prestise tentu saja akan berlomba-lomba untuk memiliki barang-barang konsumtif tersebut baik secara tunai maupun kredit.
Kredit barang-barang konsumtif ini sebenarnya adalah sebuah ilusi kemakmuran. Bagaimana tidak, sebuah barang konsumtif sudah bisa dipastikan nilainya mengalami depresiasi yang meluncur tajam, tetapi masih saja dibeli dengan kredit. Padahal dibeli secara tunai pun depresiasi terus meluncur. Kalau dikalkulasi secara ekonomi, konsumerisme membawa masyarakat pada penurunan nilai asset yang dimilikinya.
Pada akhirnya cara terbaik untuk menyikapi inflasi bukan membebankan pada pemerintah saja sebagai pemangku kebijakan. Akan tetapi harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat melalui cara pandang dan sikap hidup yang sederhana. Perpaduan sikap yang menyatu  antara pemerintah dan masyarakat ini selain bisa mengatasi inflasi, juga bisa membawa dampak kemandirian bangsa.
Masyarakat bergaya hidup sederhana jarang terkena persuasi barang luar negeri sehingga produk-produk lokal pun akan banyak diminati. Produk lokal yang banyak terjual akan mendorong pengusaha lokal untuk terus berkembang. Tenaga kerja lokal pun akan terserap di sektor ini sehingga pengangguran akan berkurang. Berkurangnya pengangguran juga berdampak pada berkurangnya penyakit sosial yang memicu keamanan dan kestabilan bangsa.***
Erlina Fitriani, S.E.
Praktisi Ekonomi dan Akuntansi
Penulis adalah alumni Fakultas Ekonomi & Bisnis Jurusan Akuntansi Universitas Gadjah Mada.
Saat ini bekerja sebagai Accounting di PT Iluva Bangun Mandiri Tanjungpinang.

No comments:

Post a Comment