Tuesday, 26 November 2013

Alergi Obat


          Alergi obat terjadi ketika sistem kekebalan tubuh keliru mengidentifikasi suatu obat sebagai sesuatu yang berbahaya bagi tubuh. Aku mengalaminya tepat pekan kemarin, saat aku melakukan perjalanan dari Kota Tanjungpinang Pulau Bintan menuju Kota Batam. Aku pergi di akhir pekan bersama suami dan anakku. Alih-alih berlibur melepas penat, setelah check-in di sebuah hotel di kawasan Batam Centre, aku malah mengalami pusing dan demam tinggi. Akhirnya, aku hanya menikmati Kota Batam dari balik selimut tebal hotel. Tak kuat meriang sendirian, aku meminum obat flu seperti yang biasa aku minum ketika merasakan gejala yang sama. Aku pun tertidur. Akan tetapi, ketika bangun kurasakan tubuhku semakin tidak karuan. Malahan, mulai ada bintik-bintik di wajahku.
            Tanpa pikir panjang, setelah satu malam menginap di Batam, aku memutuskan kembali ke Tanjungpinang. Di sepanjang perjalanan laut antara Batam menuju Tanjungpinang, aku sama sekali tidak bisa menikmati. Badanku masih tak karuan. Tanpa pikir panjang, aku kembali menelan obat seperti biasa.
            Setibanya di rumah, badanku semakin tak karuan. Ditambah lagi sekujur tubuhku mengalami ruam dan sangat gatal. Malam itu aku bertekad untuk sembuh. Aku minum obat lagi seperti tadi. Esoknya, badanku sedikit lebih baik meski aku masih merasakan pening dan sedikit demam. Obatnya sudah bekerja, begitu pikirku. Lalu aku bergegas pergi ke kantor. Kali ini aku meminta suamiku untuk mengantar.
            Setiba di kantor, aku mengerjakan rutinitasku sebagai Accounting di kantorku. Analisis bukti transaksi, jurnal dan posting berhasil kulakukan pagi itu. Di tengah-tengah keasyikanku bekerja, suhu badanku mulai meninggi. Pening di kepala juga menghinggapi. Dan yang paling mengejutkan mukaku merah, ruam dan sangat gatal. Tak kuat lagi, aku izin setengah hari untuk berobat. Dengan ditemani suamiku, aku berkeliling Kota Tanjungpinang untuk mencari dokter. Malangnya nasibku, rupanya siang itu ada seorang dokter ternama yang sedang punya hajat. Sebuah kebetulan, dokter dan klinik yang kukunjungi nihil hasilnya. Hampir semuanya mengatakan dokter sedang menghadiri hajatan di acara dokter ternama tersebut.
            Semalaman aku berusaha tidur dengan kondisi demam, sakit kepala, ruam, merah dan gatal di seluruh tubuh. Paginya, setelah mengantar anak sekolah, suami mengantarku ke RSUD Provinsi Kepri. Di sana aku harus ditangani dua dokter sekaligus. Satu dokter spesialis penyakit dalam dan satu lagi dokter spesialis kulit.  Setelah menjalani serangkaian pemeriksaan fisik, dokter menyatakan aku menderita alergi obat dan typus. Aku dinyatakan harus opname dan diambil darah untuk memastikan penyakitku. Ada pun ciri-ciri alergi obat diantaranya:
·         Ruam Kulit
·         Gatal
·         Mata Bengkak
·         Sesak Nafas (kadang disertai gejala ini)
·         Wajah bengkak
·         Demam
Siapapun yang mengalami ciri-ciri di atas setelah meminum obat, bisa dikatakan sedang mengalami alergi obat. Agar tidak semakin parah, wajib menghubungi dokter terdekat untuk memperoleh pertolongan segera. Dan ingat, jangan sekali-kali meminum kembali obat yang telah menyebabkan alergi tersebut. Serta setiap kali sakit apa pun, sebaiknya ceritakan pengalaman alergi obat ini akan kemudian tidak diberikan obat yang mengandung zat yang memicu alergi lagi.

No comments:

Post a Comment