Saturday, 16 November 2013

Property, Sebuah Pilihan Investasi


Kebutuhan hidup manusia terdiri dari tiga unsur, yaitu kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer adalah kebutuhan pokok manusia yang harus dipenuhi untuk mempertahankan hidupnya. Kebutuhan primer meliputi sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan sekunder adalah kebutuhan manusia yang harus dipenuhi setelah pemenuhan kebutuhan primer agar kehidupan manusia menjadi lebih baik. Misalnya pendidikan dan kesehatan. Sedangkan kebutuhan tersier adalah kebutuhan manusia yang pemenuhannya dilakukan setelah terpenuhinya kebutuhan primer dan sekunder. Contohnya mobil, laptop, ipad, dll.
Property merupakan salah satu unsur kebutuhan primer manusia. Oleh sebab itu, memiliki property adalah suatu keharusan yang perlu diupayakan. Selain kebutuhan primer, property juga merupakan salah satu instrument investasi yang selalu populer dari waktu ke waktu. Harganya yang jarang mengalami penurunan adalah salah satu daya tarik yang mendukung kepopulerannya. Di samping itu, memiliki property tidak menyita banyak waktu dan pikiran untuk mengelola pertumbuhannya agar memperoleh laba dalam berinvestasi.
Sebagai aktiva tetap, untuk memilikinya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Untuk itu diperlukan waktu untuk mencermati pengaturan keuangannya. Berikut ada beberapa pilihan cara untuk memperoleh property:
o   KPR (Kredit Pemilikan Rumah)
            KPR merupakan salah satu cara untuk memperoleh property yang cukup populer di masyarakat. Pengertian KPR itu sendiri adalah Kredit Pemilikan Rumah di suatu bank dengan jaminan berupa rumah itu sendiri. Kelebihan penggunaan cara KPR adalah pembeli lebih leluasa mengatur uang miliknya karena pihak ketiga (bank) memberikan keleluasaan pinjaman selama jangka waktu tertentu yang biasanya relatif lama. Akan tetapi, kekurangan cara ini adalah pembeli haru membayar bunga atas kredit yang dilakukannya. Ketika dihitung pokok dan bunganya, harga perolehan property menjadi sangat jauh dari harga ketika membeli secara cash. Hal yang tidak kalah penting untuk diperhatikan adalah pertumbuhan suku bunga bank dan jenis bunga yang berlaku itu sendiri, apakah bunga efektif, tetap ataupun lainnya. Suku bunga bank ini sangat berpengaruh pada angsuran KPR tiap bulannya. Kalau pertumbuhan property yang dibeli tergolong cepat, bisa dikatakan harga perolehan yang terdiri dari harga pokok dan bunga tersebut tidaklah seberapa. Sebaliknya, jika pertumbuhan property tersebut lambat, maka penggunaan KPR untuk memperoleh property perlu dipertimbangkan kembali.
o   Cash Keras
            Cash keras merupakan salah satu cara untuk memperoleh property yang cukup menyita waktu karena dibutuhkan kecermatan dalam mengumpulkan uang. Inflasi yang terjadi selama pengumpulan uang tersebut juga harus diperhatikan untuk menjaga nilai uang. Apabila laju inflasi cukup tinggi dan waktu pengumpulan uang relatif lama, sebaiknya pengumpulan uang diwujudkan dalam bentuk emas ataupun instrument lain yang nilainya mampu menandingi laju inflasi. Dalam hal ini, jangan bernah berpikir mengumpulkan uang secara tunai untuk mempertahankan nilai instrinsiknya. Uang yang terkumpul tersebut serta merta dapat dibayarkan kepada pihak penjual property. Apabila property dimiliki secara cash, maka pembeli tidak mempunyai beban pikiran atas hutang pembelian property sebagaimana KPR. Setelah dibayarkan, property menjadi milik pembeli seutuhnya dan dapat dimanfaatkan dengan leluasa. Kelebihan lainnya yaitu harga perolehan property tergolong rendah. Harga perolehan yang rendah sangat mendukung perolehan laba dalam berinvestasi. Cepat ataupun lambat pertumbuhannya, menjadi tidak terlalu material apabila pembelian property dilakukan secara cash.
o   Cash Bertahap
Cash bertahap adalah cara memiliki property dengan membayar sejumlah uang dalam tahapan tertentu. Hampir mirip dengan cash keras, pemilikan investasi dengan cara cash bertahap mempunyai keuntungan dapat memperoleh harga perolehan property yang rendah. Walaupun masih lebih rendah harga perolehan property cash, tetapi cara ini cukup menguntungkan karena adanya keleluasaan mengatur aliran kas yang dimiliki pembeli. Pembeli tidak serta merta memberikan seluruh uang yang dimilikinya untuk membayar lunas property tersebut. Pembeli masih leluasa melakukan rencana keuangannya tanpa kehilangan disebabkan adanya inflasi.
o   Barter
Barter dilakukan dengan menukar barang/jasa yang dimiliki pembeli dengan property yang dijual. Cara ini mengeliminasi peranan uang tunai. Akan tetapi, cara ini membutuhkan kesepakatan yang harus dituangkan dalam perjanjian untuk meminimalkan salah satu pihak berbuat curang. Untuk memperoleh kesepakatan kedua belah pihak, bukanlah hal yang mudah. Berbagai kepentingan para pihak terkadang membutuhkan waktu yang tidak sedikit untuk menyelaraskannya. Hal paling penting dalam cara barter ini adalah kesetaraan nilai antara kedua barang yang ditukar yang nantinya akan menjadi harga perolehan property. Fleksibilitas harga perolehan property ini sangat menguntungkan dalam berinvestasi karena pemilik property dapat menentukan berapa laba investasi yang akan diperolehnya.
Cara-cara di atas sangat mungkin diimplementasikan guna memperoleh property. Disiplin dalam pengelolaan keuangan adalah kuncinya. Disiplin dalam hal ini adalah mengalokasikan uang sesuai dengan prioritas kebutuhan, bukan keinginan semata. Sikap hidup konsumtif dan hedonis harus dihindari dalam rangka pencapaian perolehan property. Penghematan yang bisa dilakukan dengan menghindari keinginan pribadi layak dikumpulkan dalam sebuah instrument investasi.

2 comments: