Friday, 31 January 2014

Jangan Tertinggal!


           Bumi itu bulat dan selalu berotasi pada porosnya. Sebuah wilayah di muka bumi berganti-ganti posisi jauh dan dekat dengan matahari. Demikian pula kehidupan kita yang selalu berotasi. Ibarat roda, kadang kita berada di atas dan kadang di bawah. Saya tidak akan membahas ketika kita berada di posisi atas, karena hampir semua orang mudah melewatinya. Satu catatan saja, jika sedang berada di posisi atas, jangan sekali-kali terlalu senang dan membanggakan diri. Karena, boleh jadi posisi di atas tersebut hanya bertahan sepenggala jeda.
            Berada di posisi bawah, tentu bukan sesuatu yang mudah. Raga dan jiwa butuh tenaga ekstra untuk melewatinya. Hal paling mendasar untuk melewati posisi bawah kehidupan kita adalah motivasi diri untuk selalu maju dan jangan tertinggal. Motivasi ini harus berasal dari diri kita sendiri, bukan orang lain. Motivasi untuk jangan tertinggal dari hal-hal baik sangat perlu ditumbuhkan dalam diri. Ketika seorang kawan selalu move on, jangan tertinggal! Teruslah berjalan, lalu berlari dan semakin berlari menambah akselerasi diri.
            Sebuah mimpi bisa terealisasi dengan kerja keras dan cerdas tiada henti. Jeda dalam istirahat seharusnya juga merupakan aktivitas yang bermanfaat. Tiada satu detik waktu yang tersia-sia itulah salah satu kunci untuk jangan tertinggal. Kerja keras setiap hari akan mengasah kemampuan kita. Kemampuan yang meningkat akan menambah kecepatan kita berjalan. Cepat dan semakin cepat hingga nantinya sampai di garis finish. Kerja keras dan kerja cerdas tentu saja bukan rutinitas belaka. Tetapi, butuh teori ilmu dan skill untuk mendukungnya. Teori ilmu dapat kita peroleh dari berbagai cara, utamanya dengan membaca. Waktu istirahat agar tidak sia-sia salah satunya bisa kita isi dengan membaca.
            Lapang dada juga salah satu sifat yang dibutuhkan untuk tidak tertinggal. Lapang dada untuk mengakui dan mengejar berbagai keterlambatan yang ada. Sekarang dan jangan ditunda! Karena menunda adalah pekerjaan yang memperlambat akselerasi diri dan kesia-siaan yang tiada henti. Lapang dada mengakui keterlambatan kita sendiri bukanlah pekerjaan yang mudah, apalagi jika sifat egois kita terlalu tinggi. Sekarang dan jangan tertinggal untuk membuang sifat egois kita agar jangan sampai kita benar-benar tertinggal.

No comments:

Post a Comment