Monday, 27 January 2014

Laguku (seharusnya) Bukan Lagumu (Pernah dimuat di Tanjungpinang Pos 27 Januari 2014)

Seringkali kita mendengarkan orang bernyanyi sebuah lagu di sekitar kita. Wajar dan sah-sah saja nyanyian itu jika sesuai usia yang bernyanyi. Tetapi, sudah terjadi di kalangan masyarakat umum bahwa tidak ada batasan usia untuk bernyanyi apa saja. Bahkan, masyarakat sudah menganggap hal biasa bila seorang anak bernyanyi lagu dewasa. Hanya sebagian kecil yang prihatin akan hal itu. Tidak hanya lirik lagu, gerak lagunya pun sudah banyak menyimpang adat Melayu yang santun. Tak asing bagi mata dan telinga kita, anak-anak di bawah umur dengan fasih bernyanyi dan bergoyang lagu dewasa. Padahal, jika mau, masih banyak lagu yang sesuai yang bisa jadi bahan referensi. Misalnya lagu wajib daerah, lagu wajib nasional atau lagu-lagu bergenre anak-anak yang berkarakter lainnya.
Lagu dewasa yang dinyanyikan oleh anak-anak tersebut tentu akan berdampak buruk bagi perkembangan jiwanya. Anak akan mengalami pemikiran dewasa dan aspek psikologinya pun akan berkembang tidak sesuai tahapan usianya. Hal inilah yang menjadi cikal bakal dekadensi moral sebuah bangsa. Jika beberapa anak mengalami hal ini maka lambat laun anak-anak lainnya pun akan tertular hal yang sama. Begitu seterusnya ketika anak-anak tersebut dewasa dan mempunyai anak, maka pada generasi selanjutnya akan terulang pembenaran bahwa lagu dewasa lazim dinyanyikan oleh anak-anak.
Di samping itu, dengan bernyanyi lagu dewasa anak akan kehilangan berbagai kesempatan belajar yang melekat pada lagu anak-anak. Pertama, anak akan melewatkan kesempatan belajar. Contohnya pada lagu anak-anak berjudul “Satu ditambah Satu”, anak akan belajar matematika secara dasar. Hal ini tidak ditemukan pada lagu dewasa. Kedua, anak akan melewatkan kesempatan mengenal etika karena pada beberapa lagu anak terkandung ajaran etika yang luhur. Hal ini tidak ditemukan pada lagu dewasa. Umumnya lagu dewasa hanya bertema tentang cinta, yang notabene belum pantas dikonsumsi oleh anak-anak. Apalagi gerak atas lagu tersebut, umumnya gerakannya tidak sesuai dengan budaya santun kita. Ketiga, anak akan melewatkan kesempatan belajar bahasa. Pada umumnya, lagu anak-anak liriknya menggunakan bahasa yang baku baik bahasa daerah maupun bahasa Indonesia. Tidak seperti lagu dewasa yang seringkali tata bahasa maupun kosakatanya menyimpang dari bahasa baku.
Sinergi peran orang tua, lingkungan dan media mempunyai andil besar untuk mereposisi lagu apa yang pantas dikonsumsi oleh anak-anak. Orang tua sebagai kontrol pertama atas perilaku anak, mempunyai peran yang penting dalam mengendalikan lagu yang dikonsumsi anak. Orang tua bisa berperan dengan membelikan kaset ataupun cd lagu anak-anak. Selain itu, orang tua juga bisa menjadi filter atas lagu yang ditayangkan di televisi maupun yang diakses melalui internet. Orang tua berhak memberikan aturan di rumah, lagu apa saja yang boleh diputar dan didengar oleh anak-anak. Peran lingkungan juga tak kalah pentingnya karena anak tidak bisa hidup tanpa akses dengan lingkungan, utamanya lingkungan keluarga dan tetangga. Walaupun di rumah orang tua sudah menerapkan aturan memutar lagu anak-anak saja, hal ini menjadi tidak berarti apabila lingkungan di luar orang tua masih membebaskan memutar lagu apa saja. Sebagai anak yang cerdas, tentunya ia akan bertanya kepada orang tuanya mengapa ia di rumah tidak boleh bernyanyi lagu dewasa sedangkan saudara sepupu ataupun anak tetangga yang sebaya dengannya diperbolehkan. Andil yang juga sangat penting adalah keberpihakan media baik media cetak maupun media elektronik untuk mengkampanyekan lagu anak-anak. Media cetak berperan diantaranya dengan mempublikasikan aneka lomba menyanyi anak-anak dengan materi lagu anak-anak juga. Sedangkan media elektronik berperan dengan menayangkan anak-anak yang bernyanyi lagu anak-anak saja, bukan memberi izin tayang anak-anak yang bernyanyi lagu-lagu dewasa. Hal ini karena anak-anak umumnya melakukan imitasi atas apa yang dilihatnya di televisi/internet maupun apa yang didengarnya di radio. Seolah-olah tayangan televisi merupakan rujukan yang benar, tidak perlu filter lagi bagi anak-anak.

No comments:

Post a Comment