Friday, 31 January 2014

Malu Konsumtif


         Malu merupakan sifat dasar yang melekat pada setiap manusia. Namun, tergantung individu masing-masing apakah akan mengasah sifat malu tersebut pada hal-hal yang tidak semestinya, ataukah membiarkannya terpupus oleh egoisme diri.
            Malu jika pada tempatnya merupakan filter diri dari hal-hal yang tidak baik. Misalnya malu pada saat hidup konsumtif. Sisi hedonisme yang kian kental di masyarakat akhir-akhir ini seolah mewajibkan setiap orang untuk hidup konsumtif agar menaikkan prestise dalam kancah pergaulan. Gaya hidup konsumtif tersebut bagi yang mampu bisa langsung terpenuhi. Tetapi, bagi yang tidak mampu, pemenuhannya kadang melalui jalur kredit. Jalur kredit yang ditempuh inilah yang bisa menyebabkan kelesuan ekonomi jika dilihat secara global. Anehnya, seolah semua pihak malah mempropagandakan gaya hidup konsumtif secara kredit. Aneka hadiah dan kemudahan ditawarkan untuk meng-goal-kan akad kredit barang-barang konsumtif tersebut. Contohnya membeli motor, mobil, handphone jika dilakukan secara kredit akan berhadiah cash back. Dalam akuntansi, barang-barang konsumtif mempunyai nilai depresiasi yang tinggi sehingga nilai bukunya mudah menurun tajam. Jika barang nilainya sudah menurun tajam, maka barang tersebut akan lebih cepat menjadi rongsok. Kalaupun cara perolehannya secara tunai, tetap saja terkandung kerugian penurunan nilai di dalamnya. Apalagi jika cara perolehan tersebut secara kredit, tentu kerugian penurunan nilainya terasa lebih besar. Ibarat barang belum lunas kreditnya, tetapi sudah menjadi rongsok, tidak laku dijual.
            Alangkah bagusnya apabila rasa malu bergaya hidup konsumtif itu dipupuk terus-menerus hingga menjadi gaya hidup sederhana. Gaya hidup seherhana ini disamping menguntungkan diri-sendiri juga dapat menguntungkan ekonomi negara secara makro. Keuntungan diri-sendiri yang diperoleh yaitu adanya penghematan pengeluaran yang dapat dialokasikan ke pos investasi. Investasi ini kelak akan tumbuh nilainya bahkan sebagian investasi bisa menambah income. Keuntungan lainnya jika bergaya hidup sederhana yaitu akan menguatkan ketahanan diri dalam menghadapi tekanan ekonomi. Walaupun kelesuan ekonomi terjadi, tetapi tetap mampu dilalui dengan lapang hati. Jika ekonomi telah stabil, maka saving akan mudah ditingkatkan. Secara makro, gaya hidup sederhana ini akan menghemat neraca perdangangan negara karena nantinya ekspor akan lebih besar daripada impor.

2 comments:

  1. betol3 mak..konsumtif krn hanya ingin prestise di lingkungan ya malah merugikan...tp tentang kredit klu mmg barang dikredit itu dibutuhkan tp krn mmg uangnya blm cukup atau lama terkumpul ga apa jg mak...misal motor yg dibutuhkan untuk kerja,antar anak skul dll... krn klu nabung untuk beli motor tunai yg harganya sampe 14 jt kan lamaa mak hehehe...tp klu barangnya ga dibutuhkan spt kredit berlian yg jg marak di kalangan ibu2 arisan sy jg tak mau mak...hehehe

    ReplyDelete
  2. iya mak... klo kebutuhan boleh-boleh saja mak:)

    ReplyDelete