Thursday, 6 February 2014

Tentang Kematian...


Tadi malam saya mendengar kabar duka lagi dari seorang kawan di Jogja. Suaminya meninggal karena sakit. Suaminya masih terhitung muda. Sedih rasanya mendengar hal itu. Padahal, sekitar tiga bulan yang lalu, seorang kawan di Jogja juga mengabarkan suaminya meninggal karena kecelakaan. Sedih, tetapi harus rela demi lancarnya jalan peristirahatan yang terakhir suami tercinta. Sedih, tetapi harus bangkit dan tersenyum demi buah hati yang masih belia semua.
Ingatan saya melayang pada kakek saya yang telah meninggal dunia. Saat terakhir, kami hanya bercakap melalui telepon. Karena terbentang pulau dan lautan memisahkan kami. Kakek yang sederhana semasa hidupnya, ternyata mampu meninggalkan banyak hal untuk kami. Kakek yang lebih mementingkan ilmu daripada apa pun. Masih terngiang beliau mengutus saya untuk segera mengambil program profesi dan S2 akuntansi segera setelah saya menamatkan program sarjana akuntansi di UGM. Karena kakek pernah tersenyum bangga saat saya dipanggil di upacara wisuda sebagai wisudawan terbaik, cum laude dan waktu studi tercepat. “Mbah Kung, bilih sampun dumugi wedhalipun, kula badhe ngangge toga S2. Ugi toga wonten program saklajengipun. Wedhalipun ingkang dereng kepanggih, ananging kula taksih smangat dumugi sakmenika mbah..”. Sebelum ajalnya, kakek juga sempat kembali tersenyum bangga saat saya menunjukkan SHM sebuah rumah di Jogja hasil keringat saya. Kesederhanaan kakek yang teramat bersahaja, yang belum tentu bisa ditiru anak cucunya di era hedonisme ini. Padahal jika mau, hidup bermegah pun beliau mampu melakukannya. Tetapi tidak, beliau lebih mementingkan anak cucunya hidup sejahtera dengan aneka warisan harta, ilmu dan budaya yang dimiliki hingga kematian datang menjemputnya. Kakek telah melakukan yang terbaik di saat terakhirnya.
Kematian itu pasti datang, entah kapan. Jika sudah saatnya, ianya tak kan pilih-pilih usia. Entah saat muda usia maupun saat senja. Tetapi, kematian adalah sesuatu yang pasti yang patut kita nanti dengan persiapkan diri. Karena nanti, esok atau lusa kita pasti akan memenuhi panggilan-Nya. Amalan terbaik semoga menjadi penutup kita saat wisuda usia. Oleh karena saat kematian itu datang tak tahu kapan, sewajibnya kita terus, terus, dan terus melakukan amalan terbaik. Karena bisa jadi, amalan itulah amalan yang terakhir kita sebelum purna usia.
Jika kematian datang, kita akan pergi meninggalkan kefanaan dunia. Meninggalkan semua manusia. Anak, pasangan, orang tua, mertua dan semua kerabat akan kita tinggalkan. Sedari sekarang, ada baiknya kita persiapkan pemahaman bahwa kematian itu akan datang. Pemahaman itu bisa kita upayakan dengan membuat agama sebagai atmosfir kehidupan yang tak terpisahkan. Pemahaman yang baik akan melahirkan tindakan yang semestinya saat kematian itu datang. Akan mengupayakan pahala yang terus melimpah meski kita telah tiada.

No comments:

Post a Comment