Thursday, 20 March 2014

Setiap Anak Itu Unik

Dua hari yang lalu, saya berkesempatan mengobrol dengan seorang ibu berputri satu. Putri ibu tersebut berusia enam tahun. Ibu itu bercerita kalau putrinya baru lancar berbicara di usia empat tahun. Terlambat memang menurut orang kebanyakan, tetapi bagi ibu itu tidak mengenal kata terlambat untuk perkembangan putrinya. Ia terus berusaha melatih putrinya berbicara sambil menutup telinga dari perbincangan orang-orang di sekitarnya yang tidak henti-hentinya mengatakan hal yang negatif tentang putrinya. Ibu itu tanpa lelah terus meneguhkan semangat dan keyakinan bahwa putrinya akan tumbuh normal seperti anak-anak kebanyakan. Putrinya hanya terlambat bicara, bukan tidak bisa berbicara. Terbukti pada saat usianya baru empat tahun, ada sepatah dua patah kata yang meluncur dari putrinya meski tidak terdengar jelas.
Kini, di usianya enam tahun, putri ibu tersebut sudah lancar berbicara. Ia bahkan sudah tidak menampakkan tanda-tanda keterlambatannya dalam berbicara. Ia bergaul normal seperti anak pada umumnya. Tentu saja ini berkat perjuangan ibunya dan keyakinan sang ibu bahwa setiap anak itu unik. Setiap anak punya ritme perkembangan tersendiri yang tidak bisa dibandingkan dengan anak lainnya. Hanya saja, memang harus ada upaya yang keras untuk berlatih bila anak tersebut diindikasikan terlambat dalam perkembangannya.
Dukungan lingkungan juga sangat penting bagi anak-anak yang berkebutuhan ekstra dalam perkembangan. Menyayangi mereka sebagaimana apa adanya yang terdapat pada fisik maupun mental anak tersebut adalah sebuah kado penerimaan yang istimewa. Kelak, dengan penerimaan dari semua pihak, anak-anak tersebut akan tumbuh mandiri meskipun adakalanya berbeda perkembangannya dengan anak-anak lainnya.
Perlu disadari bahwa memperoleh penerimaan yang utuh bagi anak-anak ini memang tidak mudah. Seringkali stigma negatif  bahkan cemoohan secara terang-terangan datang menghampiri mereka. Tugas orang tua dan kita sebagai orang yang menyadari keadaan tersebut harus terus memompakan semangat pada anak-anak tersebut. Semangat mereka yang terpompa akan menjadi motivasi besar mereka untuk berlatih dan belajar menuju kemandirian. Meskipun sebuah kemandirian yang sederhana, tetapi bagi mereka adalah prestasi yang harus diapresiasi. 

4 comments:

  1. Bener tu mak. Kadang anak rewel pun dibilang kurang dididik untuk mandiri. Hadeeeh... tiap anak punya waktunya sendiri2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, tugas kita tanya mengkondisikan sambil menunggu waktunya berkembang:)

      Delete
  2. waduh koq sama dengan anakku yg sekarang belum jelas bicaranya di usia 4 thn..semoga dg kesabaran, dia bisa bicara normal seperti lainnya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Insya Allah kesabaran itu akan berbuah manis mak, smangat terus pastinya:)

      Delete