Sunday, 18 May 2014

Cegah & Obati TB Resisten Obat!

 "Penyakit TB bisa diobati, asalkan disiplin dalam mengobatinya. Jika tidak, maka akan terjadi TB resisten."
Demikian judul selebaran yang ada di ruang tunggu dokter langgananku. Jantungku langsung berdenyut kencang karena berarti aku dan penduduk Indonesia lainnya berisiko terkena kasus TB resisten. Bagaimana tidak, aku hidup di Indonesia yang notabene adalah negara yang menduduki peringkat ke-8 dari 27 negara dengan beban TB MDR terbanyak di dunia. Artinya, para penderita TB di Indonesia banyak yang tidak disiplin mengobati penyakitnya yang berakibat terjadinya resistensi. Resistensi ini disebabkan oleh mutasi genetik sehingga OAT tidak lagi mampu melawan basil mutan. Haduh, serem gitu! Berarti harus banyak baca dan share ke banyak orang dong! Biar "ranking" beban TB MDR turun.
Ada 3 golongan kasus resistensi yang terjadi. Pertama, TB resisten obat. TB resisten obat adalah kasus TB di mana kuman TB telah kebal terhadap OAT.  TB  Kedua, TB MDR (TB Multi Drug Resistant). TB ini terjadi apabila kuman TB telah kebal terhadap minimal 2 jenis OAT yang paling poten. Ketiga, TB XDR (TB Extensively Drug Resistant). TB ini terjadi apabila TB MDR disertai dengan kekebalan terhadap OAT lini kedua yaitu golongan fluorokuinolan dan setidaknya satu OAT lini kedua suntikan seperti kanamisi, amikasin atau kapreomisin.
Kesehatan adalah anugrah  terindah bagi setiap orang. Begitu juga para penderita TB, harus diupayakan kesehatannya. Untuk TB biasa saja pengobatan minimal 6 bulan dan harus disiplin menelan berbagai obat. Tentu saja, untuk TB resisten obat pengobatannya jauh lebih kompleks. Yang pasti jauh lebih banyak macam obatnya, lebih lama masa pengobatannya dan harus lebih disiplin lagi. Nggak mau kan awalnya sehat lalu tertular TB? Setelah kena TB minum obat. Belum habis obatnya sudah berhenti minum obat karena merasa sudah sehat. Akhirnya ketahuan kena TB resisten obat atau TB MDR atau yang paling parah TB XDR.
Kok serem ya?? Bagaimana dong pengobatannya?
Tenang, setiap penyakit pasti ada obatnya, termasuk TB resisten, TB MDR maupun TB XDR asal mau lebih disiplin dalam berobat. TB kasus resistensi ini dapat disembuhkan melalui tindakan medis dan dukungan sosial masyarakat sekitar. Awal tindakan medis yang bisa dilakukan yaitu mendiagnosis TB resisten obat, TB MDR, TB XDR menggunakan tes cepat metode PCR (Xpert MTB/RIF), pemeriksaan biakan dan DST (Drugs Sensitivity Test). DST ini untuk menguji kepekaan kuman terhadap obat TB. Langkah selanjutnya pasien harus menjalani pengobatan selama 2 tahun. Hahh?? Pengobatan selama minimal 6 bulan saja nggak lulus, masa harus 2 tahun pengobatan? Ya, begitulah. Maka sangat penting disiplin minum OAT sampai sembuh, agar tidak semakin lama pengobatannya karena resistensi.
Selama masa 2 tahun pengobatan, ada beberapa hal yang wajib dipatuhi pasien. Pasien harus memperoleh injeksi setiap hari selama 6 bulan dan setiap hari harus minum obat minimal 4 macam obat lini kedua yang masih sensitif selama 18 bulan setelah masa konversi. Agar pasien benar-benar minum obat, maka setiap hari obat-obat ini harus diminum di hadapan petugas medis di rumah sakit/puskesmas. Wah-wah, repot sekali ya! Waktu, tenaga dan biaya sangat tersita. Jadi memang benar, lebih baik mencegah daripada mengobati.
Yuk, kita cegah!
Melihat peliknya pengobatan TB resisten obat, TB MDR ataupun TB XDR, langkah yang paling tepat sebelum semuanya terlambat adalah pencegahan. Bagaimana caranya? Simak yuk poin-poin pencegahannya:
  • Pemberian obat yang tepat pada pasien TB, baik paduan, dosis, lama pengobatan maupun kualitas obat.
  • Menjamin pasien TB meminum obatnya sesuai aturan dan jangka waktunya.
  • Memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada tenaga kesehatan agar semakin kompeten menangani pasien TB.
  • Segera melakukan diagnosa awal terhadap TB resisten obat, TB MDR, TB XDR, 
    pada orang yang sakit TB berulang atau mempunyai riwayat TB.
  • Segera melakukan diagnosa awal terhadap TB resisten obat, TB MDR, TB XDR, pada orang yang datang dari wilayah yang mempunyai beban TB resisten obat yang tinggi agar bisa segera dilakukan tindakan (jika positif).
  • Berolah raga secara teratur dan bergaya hidup sehat serta menjaga kebersihan lingkungan 
Nah, sudah tahu kan cara mencegahnya? Cegahlah selagi bisa. Kalaupun tidak bisa, segera ambil tindakan untuk mengobatinya.

Sumber: www.tbindonesia.or.id, www.ppti.info, www.depkes.go.id


10 comments:

  1. Nice posting mak, Aku usulin dapat liebster Award :)

    http://ceritajengyuni.blogspot.com/2014/05/liebster-award.html

    ReplyDelete
  2. La untuk yang belum terkena tb gimana caranya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena ini serial 4, maka bahasannya sudah sampai TB Resisten. Klo yg belum kena, ada di serial 1 http://erlinafitriani.blogspot.com/2014/04/yuk-temukan-dan-sembuhkan-penderita-tb.html

      Delete
  3. Lama2 nglotok ya soal TB ini. Moga2 yang kita tulis bisa dilaksanakan para penderita

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, betul. Plus juga banyak yg share sehingga Indonesia benar2 bisa bebas TB:)

      Delete
  4. Postingannya berbobot banget nih. Bahasan yang mantap.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih:)) Smoga banyak yg baca atau share tentang TB ini :))

      Delete