Friday, 9 May 2014

Indonesia Move On: Gerakan Pengampu Pendidikan Indonesia


Adalah sebuah negara kepulauan yang subur beserta beragam potensi yang terkandung di dalamnya. Negara tersebut pada dasarnya kaya raya. Ironisnya, negara tersebut juga terjerat hutang luar negeri yang cukup banyak. Itulah negara Indonesia, sebuah negara di mana saya lahir dan dibesarkan.
Rasa sayang pada bangsa ini salah satunya saya wujudkan dengan mengikuti lomba blog ini. Harapan saya cukup sederhana, ada yang terinspirasi dengan tulisan saya, utamanya sang pemangku kepentingan.
Indonesia dikenal sebagai negara berkembang, sebuah sebutan halus bagi negara yang belum mampu memajukan potensinya dalam berbagai bidang kehidupan seperti layaknya negara maju. Akar permasalahan ini bermula pada pendidikan Indonesia yang belum merata di seluruh tanah air. Mungkin, di kota-kota besar, pendidikan sudah demikian maju. Tetapi, cobalah meluangkan waktu melakukan semacam travelling ke pelosok pulau untuk melihat lebih dekat senyatanya bagaimana kondisi pendidikan penduduk di sana. Sebagai bonus, tentu pemandangan sisi sosial dan kesehatan akan tersaji senyatanya.
Lihatlah seperti gambar berikut, begitu keras perjuangan generasi bangsa untuk mengenyam pendidikan.
 
Gambar dari sini


Gambar dari sini

 
Gambar dari sini
Alih-alih bersaing dengan SDM luar negeri, sekadar merampungkan program wajib belajar pun sungguh merupakan sebuah keadaan yang istimewa. Lalu siapa yang salah? Kenapa tidak semua warga negara Indonesia dapat menunaikan haknya untuk mengenyam pendidikan yang layak yang nantinya tentu saja akan berimbas pada pola kehidupan sosialnya yang lebih sejahtera? Ah, sudahlah. Telinga ini tentu sudah terasa panas mendengar saling salah dan saling tuding yang semakin wara-wiri terdengar pada saat pesta demokrasi. Sudahlah, tidak ada gunanya lagi menuding sana-sini. Kalau memang Indonesia mau move on, ayolah kita mulai dari diri sendiri dan sekarang juga! Sebuah gerakan dari masing-masing pribadi tentu bisa terakumulasi menjadi sebuah gerakan bersama yang bersifat kebangsaan. Yakin, ini jauh lebih solutif dan berguna.
Gerakan masing-masing pribadi yang akan mengarah pada gerakan bangsa ini berupa GPPI (Gerakan Pengampu Pendidikan Indonesia). Dompet Dhuafa yang sudah kita kenal sebagai lembaga penyalur zakat, infaq maupun shadaqah tentu mampu menjadi salah satu fasilitator gerakan ini. GPPI merupakan gerakan kepedulian masing-masing individu yang mana setiap individu yang berkemampuan wajib mengampu pendidikan seorang anak atau lebih. Individu tersebut, dengan penuh kesadaran dan kepedulian menjamin pendidikan seorang anak atau lebih sampai minimal menyelesaikan bangku kuliah. Lalu bagaimana jika ia tidak mampu seorang diri mengampu? Tidak masalah. Individu tersebut bisa bergabung dengan individu lainnya untuk mengampu pendidikan seorang anak. Realistis saja, kebutuhan semakin lama semakin banyak, jadi tidak mengapa bila menggunakan sistem patungan untuk mengampu pendidikan seorang anak. Yang penting bukan hanya wacana tapi butuh aksi nyata. Saya pribadi, sudah melakukan hal tersebut meski masih menyesuaikan dengan kemampuan finansial saya. Seiring waktu berjalan, saya pun berharap saya bisa mengampu lebih banyak. Harapan saya cukup sederhana, banyak orang yang melakukan hal yang sama sehingga lambat laun pendidikan Indonesia akan terbangun merata di seluruh nusantara. Indonesia move on adalah kenyataan di depan mata jika kita bersama-sama mewujudkannya.
 
 

8 comments:

  1. Miris Ma' dgn kondisi pendidikan negeri ini yg belum mengalami kemajuan yg signifikan. Berita UN kemarin banyak anak yg nekat mengakhiri hidup

    ReplyDelete
  2. hiks, iya mb.. UN sekarang bikin down anak-anak..

    ReplyDelete
  3. sukses mak GPPI move On.Miris kalau lihat fasilitas dan kualitas pendidikan di tempat terpencil

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mak, kalau nunggu pemerintah rasanya lama. Lebih baik bergerak swadaya:)

      Delete
  4. untuk sementara sy msh membantu pendidikan adik2 saya..klu ada rezeki lebih nti ya mau membantu pendidikan anak2 yg lain

    ReplyDelete
    Replies
    1. adik kan juga anak bangsa, mak. Aminn..muga2 lebih lagi rezekinya:)

      Delete