Friday, 20 June 2014

Anakku Luka-luka


Bulan ini, selama tiga hari berturut-turut, anakku luka-luka. Hari pertama, anakku berlari ke pelukanku sambil menunjukkan tangannya yang habis digigit anak tetangga, sebutlah Dedek. Hari kedua, aku menemukan anakku bibir dan hidungnya berdarah karena jatuh tersandung. Lalu hari ketiga, anakku menangis keras karena kepalanya benjol dipukul dedek dengan menggunakan tongkat kayu. Apakah anakku mengganggu Dedek? Tidak, anakku type anak yang mengalah jika bermain dengan teman-temannya.Menurut penuturan orang tua Dedek, Dedek memang anak yang sangat aktif dan suka usil sama teman-temannya. Sudah banyak anak-anak "korban" Dedek. Makanya, oleh orang tuanya, Dedek jarang diizinkan bermain di luar rumah bersama teman-temannya.
Sebagai ibunya, terus terang aku sedih melihatnya. Rasanya pengen marah-marah sama Dedek. Tapi itu tidak mungkin, nanti akan menimbulkan permusuhan antar keluarga. Urusan anak-anak berkelahi, memang seharusnya orang tua tidak turut campur membela anak masing-masing. Turut campur yang penting adalah melerainya dengan menasihati anak masing-masing, buka menyalahkan anak orang lain.
Sederhana, permintaan maaf dari orang tua Dedek kepadaku membuatku sedikit "adem" dari rasa sedihku. Anakku pun ceria, tidak ada trauma. Hanya bekas lukanya memang sekarang masih tampak. Nggak papa le..ben dadi cah lanang kuat balung wesi..
Mengenai Dedek, sehabis ia melukai anakku, sayup-sayup kudengar ia dimarahi orang tuanya. Padahal, aku sendiri tidak marah-marah kepada Dedek. Dan pada anakku, kuberi pengertian bahwa Dedek memang masih kecil, belum mengerti apa yang ia lakukan. Jadi, tidak perlu dibalas. Cukuplah berhati-hati saat bermain dengannya.

Peristiwa terlukanya anakku kontan membuatku instrospeksi. Ada apa denganku? Ada apa dengan suamiku? Apakah mungkin kami lalai menjaga anak kami satu-satunya saat ini? Ataukah ini sebuah teguran dari-Nya? 

Sebuah konsep penjagaan yang aku percaya bahwa Dia yang akan menjaga anakku, aku, suamiku dan keluargaku di mana pun kami berada karena dalam setiap hari kami selalu memohon untuk ditunjukkan jalan-Nya yang lurus. Aku percaya kalau semakin banyak perbuatan baik maka semakin luas pula penjagaan-Nya dengan berbagai cara dan kuasa-Nya.


2 comments:

  1. ga bisa komentar banyak sih mba..soalnya tiga anakku pun usil bin jahil jadi ga kebayang jk anakku melakukan al itu kepada org lain..semoga sih tidak, pengawasan sepertinya jalan terbaik deh plus minta maaf ortu ke anak yg jd korban :)

    ReplyDelete
  2. hehehe..iya mbak, biasalah anak2 sperti itu. Betul, yg penting pengawasan dan minta maaf:)

    ReplyDelete