Saturday, 28 June 2014

Masa Lalu

Seorang teman bercerita bahwa ia dijauhi teman-temannya terkait masa lalunya. Teman-temannya kebetulan tipe orang-orang yang mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi, meskipun itu sudah masuk ranah pribadi seseorang. Istilah sekarang orang-orang "kepo". Masalahnya, kepo-nya tidak berhenti sampai di sini. Setelah tahu hal banyak dan kira-kira berbau negatif, meski masa lalu, kadang malah jadi antipati. Padahal, kalaupun itu fakta, bukankah itu tinggal cerita saja? Asalkan masa sekarang sudah baik (bertaubat), mengapa harus terus menilik masa lalu?
Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri-sendiri. Dengan kata lain, setiap orang tidak bisa lepas dengan masa lalu baik masa lalu yang indah maupun masa lalu yang "bubrah". Melihat kenyataan itu memang ada baiknya kita semua untuk tidak terus-menerus menilik masa lalu seseorang. Risih. Coba bayangkan seandainya saja kita mempunyai masa lalu yang tidak manis, lalu beruntun orang-orang menanyai masa lalu kita, padahal kita sama sekali sudah berubah.. Apakah kita sanggup memendam perasaan "risih"? Rasa-rasanya ingin berlari menjauhi mereka dan lalu suatu saat kembali dengan wajah yang berbeda, bukan kita lagi.
Masa lalu yang kurang manis, memang ada kalanya ditutupi saja jika ditanyakan oleh orang-orang yang tidak berkepentingan. Bermanis kata sedemikian rupa asalkan tidak berdusta, bolehlah kita jadikan jawabannya. Atau boleh juga sekadar mengalihkan perhatian atas pertanyaan yang sudah di luar batas tersebut.
Oleh ratu gosip, apalagi, wajib hukumnya untuk menutup rapat masa lalu yang kurang manis. Jika tidak ditanya, lebih baik tidak usah secara sukarela bercerita. Toh, masih banyak bahan obrolan yang lebih mendidik ketimbang soal masa lalu kita.
Kita kadang sudah menutup rapat-rapat, tetapi rupanya masih saja ada "saksi sejarah" yang mengetahui masa lalu kita. Kalau memang ia manusia yang baik, meski fakta, tentulah ia akan menutupi hal-hal yang tidak baik tersebut. Tidak ada gunanya kita menyebarkan aib orang. Tidak ada gunanya juga kita menutup mulutnya. Apalagi kalau ia termasuk orang yang tidak baik yang gemar menyebarkan keburukan orang, tentu pembicaraannya melebar kemana-mana. Lalu apa yang bisa kita perbuat? Berserah saja sambil berdoa semoga orang tersebut diberikan petunjuk. Tetapi sebelumnya, ada baiknya juga kita mengklarifikasi orang tersebut secara baik-baik apa maksudnya menyebarkan hal-hal buruk tentang kita. Apakah ia dibayar oleh pihak lain, apakah untuk menjatuhkan kita karena ia dengki dengan keadaan kita yang sekarang lebih baik, ataukah hanya memenuhi kepuasan batinnya saja. Jika kita sudah mengklarifikasi dan ia ternyata tidak berubah, ya sudahlah. Kita berserah, barangkali Dia Yang Maha Esa yang akan memberinya petunjuk dengan cara-Nya hingga ia sadar.


4 comments:

  1. Sarat hikmah, Mak. Kita hidup sekarang juga berkat masa lalu yang telah dijalani. Dan masa sekarang bisa menjelma masa lalu di masa mendatang.
    Selamat ramadhan, Mak. Mohon maaf lahir batin jika ada lisan yang tertuang dalam tulisan yang bikin Mak Erlina tak berkenan. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama2, mak. Mohon maaf lahir dan batin juga..^^

      Delete
  2. seorang teman yang tidak bias menerima masa lalu kita perlu dipertimbangkan 'status teman'-nya.

    eh met puasa ya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. seharusnya begitu..
      hehehe..very thx nik:))

      Delete