Monday, 7 July 2014

Kado

Pernahkah menerima sebuah kado? Kalau saya pernah, bahkan bisa dikatakan selalu ada saja yang memberi saya kado. Kado yang saya pernah terima macam-macam barangnya, ada sepatu, barang elektronik, gadget, sajadah, selimut, sprei, tas, baju, jilbab, buku, dll. Moment saya memperoleh kado pun beraneka, saat saya berulang tahun, hari jadi pernikahan dan bahkan saat saya tidak sedang mempunyai moment. Ya, bagi saya, kado adalah hadiah tanda cinta untuk mengeratkan tali silaturahmi. Tetapi, bukan berarti orang yang tidak memberi kado untuk saya lantas saya menjauh darinya lho ya.. Tidak, sama sekali. Semua tetap teman saya.
Diberi kado adalah sesuatu yang membahagiakan bagi saya. Apapun barangnya pasti akan saya simpan sebagai tanda mata dari seseorang. Bukan nilai barang tersebut yang menjadikannya saya simpan dan sayang, tetapi nilai cinta yang ada di balik barang tersebut. Dan hal ini yang menjadikan saya pelit untuk merelakan kado seseorang pada orang lain. Maksudnya, kalau ada yang meminta barang yang merupakan kado yang diberikan teman/saudara untuk saya, pasti tidak saya berikan. Karena bagi saya, di kado itu ada tanda cinta untuk saya. Oleh karena itu saya menghargainya dengan tidak memberikannya kepada orang lain. Kalau bisa saya pakai ya saya pakai. Kalau tidak bisa saya pakai, ya saya simpan. Kalau sudah tidak bisa dipakai, biasanya pun masih saya simpan karena itu sebuah kenangan.
Kadang kado yang saya terima tidak sesuai dengan selera saya. Itu hal biasa bagi saya. Saya tetap menghargainya dengan tidak memberikannya kepada orang lain. Saya tetap memakainya kok! Karena dengan memakai, adalah sebuah bentuk penghargaan. Kalau pun saya sudah tidak memakainya lagi, bukan berarti saya telah mencampakkannya. Tetapi, saya menyimpannya. Jika sudah tidak bisa dipakai lagi alias rusak, barulah barang tersebut saya gudangkan. Tetapi, kenangan atasnya tetap tersimpan.
Pernah diberi kado, tentu saja saya juga pernah memberi kado. Saling memberi dan menerima, begitulah kira-kira. Memberi kado, bagi saya bukan soal Rupiahnya. Tetapi yang unik, butuh kejelian untuk memberi kado sesuai selera yang akan kita beri. Dahulu, di jaman kuliah, saya sempat iseng juga memberi kado seorang teman berupa kaset nasyid padahal saya jelas-jelas tahu bahwa aliran musiknya adalah pop pada waktu itu. Waktu itu saya benar-benar berkeyakinan bahwa dengan diberi kaset nasyid nantinya teman saya akan bersedia mendengarkan nasyid tersebut. Harapan saya, ia tersentuh dan akan lebih mendekat kepada Allah SWT. Entah akhirnya ia benar-benar dengarkan nasyid itu atau tidak, saya tidak tahu. Hanya saja waktu itu saya berkali-kali menanyainya tentang kado saya, apakah suka (padahal saya sudah tahu aliran musiknya adalah pop), apakah sudah didengarkan, dll. Geli sendiri kalau teringat hal itu. 
Pernah memberi kado tentu saja saya juga pernah punya pengalaman bahwa kado saya telah diberikan ke orang lain lagi. Jadi saya memberi kado kepada si A, lalu entah alasan apa rupanya si A telah memberikan kado dari saya kepada si B. Secara kebetulan, saya tahu dari si C. Nah, kalau tahu hal seperti ini jujur saja saya merasa tidak dihargai. Sudah capek-capek memilih kado, bahkan kadang sampai hunting ke beberapa toko, ternyata kado saya malah dilimpahkan kepada orang lain. Padahal, saya inginnya kado tersebut dipakai atau setidaknya disimpan.

9 comments:

  1. ujian keikhlasan mak...saya termasuk yang sering 'melanjutkan hadiah yang saya terima.habis kalau mau dipakai sendiri kebanyakan...hihi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, mak. Dan rupanya saya masih harus banyak belajar tentang ini..hehehe..

      Delete
  2. Kado yang paling kusukai itu yang "with intention". Dari cara memberikan & membungkusnya saja kita sudah bisa merasakannya. Saya pernah dikasih semangkok kecil kolak, tapi bareng puisi yang diketik rapi dan digulung dg pita, pdhl dia ibu 5 anak yg sibuk tp mau menyiapkan sesuatu yg kelihatannya sederhana tp penuh detil yg menyentuh hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau kadonya seperti itu, sungguh sangat berkesan ya mak. Tak kan terlupakan pokoknya:)

      Delete
  3. iya mak,,pernah digituin juga,,,sepertinya kado yg kita kasih nggak cocok buat dia mak,,,tapi positif thinking aja,,mungkin dia udah punya,,dan ingin memberikan juga ke oranglain,,, :) dengan kata lain bersedekah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehe..iya mak:) tapi kadang msh gimana gitu..hihi..

      Delete
  4. Iya Mak, rasanya kayak gimana gitu digituin...

    Sama kayak yang lain, positif thinking aja mak...

    ReplyDelete
  5. Saya juga bakal lebih menghargai orang yang gak asal kasih kado. Jadi dia berusaha mencari kado yang memang akan membuat si penerima senang. Dengan begitu, tega sekali kan kalau kita tidak menghargainya dengan baik?

    ReplyDelete