Tuesday, 1 July 2014

Selimut Angry Bird

Tadi siang, saya menyempatkan membeli sebuat selimut angry bird untuk anak saya. Sebenarnya saya tidak ada rencana sama sekali untuk membelinya, mengingat tujuan saya pergi siang tadi ke notaris untuk urusan kantor. Kebetulan sekali, toko yang menjual selimut tadi bersebelahan dengan notaris tempat urusan saya tadi siang. Akhirnya, jadi beli deh. Memang tidak memilih karena saya langsung jatuh cinta dengan selimut motif angry bird dengan latar warna merah.  

Setiba di rumah, rupanya anak saya menyukainya. Lega hati saya karena ada harapan untuk mengganti selimut kecil warna pink miliknya. Selimut warna pink itu akan saya simpan kembali. Bagaimanapun selimut pink itu menyimpan banyak kenangan. Semasa saya masih bayi, kata ibu saya, saya menggunakan selimut pink itu. Setelah saya punya anak, rupanya anak saya juga menyukai selimut itu. Saya bahkan harus sering mencuri-curi untuk bisa mencucinya. Kalau belum berhasil untuk "mencuri" selimut itu dan mencucinya, kadang selimut itu sampai bau. Kalau sudah bau, akhirnya saya membawanya ke laundry kilat yang bisa selesai dalam 2-4 jam. Anak saya pun tidak merasa kehilangan selimutnya selama proses laundry. Ia bisa berselimut lagi dengan bersih dan wangi. Anak saya sudah terlanjur tidak bisa tidur tanpa selimut pink itu.
Anak menyukai sesuatu itu lumrah. Sah-sah saja kita menurutinya, asal masih dalam batas-batas yang wajar. Batasan lainnya, asal sesuatu yang disukai anak tersebut tidak membahayakan bagi dirinya. Sekiranya mengandung potensi bahaya, sebaiknya kita dengan tegas melarangnya. Contohnya petasan. Kebetulan di bulan ramadhan ini, petasan seolah sebagai pelengkap semarak bulan puasa. Petasan adalah benda berbahaya yang apabila salah menyalakannya bisa berakibat fatal mencelakai anak. Petasan harus dihapus dari daftar mainan anak, meski ia sangat menyukainya. Meski ia hanya melihat temannya menyalakan petasan, lebih baik jangan. Di dunia anak-anak, segala kemungkinan bisa terjadi karena kurangnya sikap waspada mereka.Boleh jadi hanya melihat, tapi bisa juga berpotensi terkena bahaya petasan tersebut.
Ketika kita memberi ketegasan pada anak, kadang menyebabkan anak menjadi tantrum. Tantrum yang terus menerus memang membuat kita emosi. Saya pun sering mengalaminya. Tantrum yang dihadapi dengan keras biasanya malah membuat semakin jadi. Sebaliknya, seandainya kita bisa berkomunikasi dengan cerdik, tantrum anak akan mereda. Komunikasi cerdik bisa berbentu mengalihkan perhatian agar anak lupa dengan tantrumnya.

6 comments:

  1. ada ya yang punya selimut kesayang....anakku biasanya punya dot kesayangan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada mak..dan selimut pink itu sdh seumuran sy mak, 31 tahun..hihihi..

      Delete
  2. tantrum,,aku baru dengar istilah itu mak,,,hehehe :) dan baru tau artinya,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. gpp baru tau, mak. yg penting sudah ahli mengatasi tantrum anak:))

      Delete
  3. mengatasi tantrum itu seperti bermain layangan. Harus tarik ulur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul, mak. butuh seni tersendiri. Sampai sekarang saya msh harus banyak blajar bagaimana formula yang pas untuk menghadapi anak tantrum:)

      Delete