Saturday, 25 April 2015

#BeraniLebih: Menegur Berarti Peduli

Sebuah grup dalam media sosial dikatakan sehat jika tulisan maupun gambar yang diposting juga merupakan hal-hal yang baik. Tetapi kriteria baik dan buruk rupanya tergantung pribadi masing-masing, tidak tergantung status akademik maupun gender. Buktinya masih saja ada grup yang tidak membedakan gender dan beranggotakan lulusan terpelajar, tetapi tetap saja diam ketika ada anggotanya yang memposting hal-hal yang berbau pornografi. Entah permisif yang berlebih atau atas dasar agar tidak dicap sok suci atau atas nama toleransi hobby, saya kurang paham apa yang membuat kalangan pintar dan bahkan perempuan dalam anggota grup itu tetap terdiam.
Hati saya risau karena postingan yang tidak layak tersebut bisa saja dibaca oleh anak di bawah umur. Bisa jadi seorang anak yang sedang memainkan hp orang tuanya, secara tidak sengaja melihat postingan tersebut. Apa jadinya ketika anak yang masih di bawah umur sudah terpapar postingan negatif sejak dini?
Apakah postingan gambar yang tidak layak itu hanya berpengaruh negatif bagi orang-orang yang mempunyai pikiran yang kotor? Saya rasa tidak. Buktinya beberapa cerita kasus rumah tangga yang saya ketahui berawal dari seringnya salah satu pasangan terpapar postingan negatif, gambar yang bermuatan pornografi khususnya. Awalnya mungkin hanya melihat gambar dari teman, lama kelamaan karena sudah kecanduan, akan mencari sendiri gambar-gambar tersebut dan akhirnya tidak cukup hanya gambar, tetapi raga yang asli. Itulah alur sebuah fenomena yang sudah nyata kerap terjadi. Saya tidak perlu menyebutkankan rumah tangga siapa saja yang pernah mengalaminya. Saya hanya ingin membeberkan lewat tulisan kecil ini bahwa seperti itulah alurnya. Tidak ada peristiwa yang berulang, tetapi di balik semua peristiwa yang telah terjadi ada alur berulang yang bisa dipelajari.
Mumpung masih belum menjadi candu, memang sebaiknya setiap individu bertindak aktif untuk memerangi konten postingan negatif baik di grup media sosial maupun di mana saja. Menegur bukan berarti menganggap hina tetapi justru karena masih ada rasa peduli agar paparan virus postingan negatif tidak mewabah. Apakah jadinya jika satu orang yang diam saja diikuti oleh khalayak yang juga sama-sama diam, tentu hal ini akan menjadikan sesuatu yang negatif itu menjadi lumrah.
Setelah teguran itu saya lontarkan dan setelahnya ada orang yang beranggapan bahwa saya menganggap grup tersebut adalah hina, saya pun terus melangkah. Tidak terbersit dalam diri saya anggapan yang demikian. Saya hanya mau menegur jika konten postingan yang negatif ya tetap saja negatif meski datangnya dari grup kalangan terpelajar. Semoga setelah ada teguran kecil dari saya, orang yang masuk surga saja belum tentu, grup tersebut dan juga grup-grup lainnya akan jauh dari konten yang berbau negatif. Syukur kalau sekarang sudah menjadi grup yang berisikan hal-hal yang bisa meningkatkan kapasitas diri.  Kalau saya #BeraniLebih untuk menegur, saya yakin Anda juga berani melakukan hal demikian di grup yang Anda ikuti bila dirasa grup tersebut memuat postingan yang kurang pantas. Sudah saatnya kita berbenah! Ayo lakukan mulai sekarang!

Total 457 kata.


Facebook: Erlina Fitriani
Twitter: @ErlinaMomFadhil
Google +: Erlina Fitriani

14 comments:

  1. bagus tu mak berani lebih untuk negur
    memang ada tu yang langgar aturan eh saat ditegur mala kita yg di bully stdkny qt udh negur sisanya? serahkan ke Tuhan
    memang bnyk grup
    diskriminasi jg sering bhkn dilakui sama yg terpelajar
    yah smg dismriminasi itu mati dan balik lg ke t4nya
    sukses ya bwt lombanya

    @guru5seni8
    penulis di www.kartunet.or.id ato di http://hatidanpikiranjernih.blogspot.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, mak. Berani menegur dan sisanya serahkan ke Tuhan:)

      Delete
  2. waah belajar dari pengalaman njenengan untuk tegas bersikap dan menegur, salam sukses untuk kontesnya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. tegas yang penuh risiko, termasuk risiko diretas. Terima ksh ya;)

      Delete
  3. Postingan2 yg mengandung sara di laporin aja ke adminnya

    ReplyDelete
  4. Anak mesti didampingi kalau bermedsos ya l, biar gak browsing kena yg aneh2. Salut buat Mbak Erlina yg berani negur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Apalagi anak saya yg baru 5 tahun, sudah bisa buka-buka hp n download sendiri

      Delete
  5. Anak mesti didampingi kalau bermedsos ya l, biar gak browsing kena yg aneh2. Salut buat Mbak Erlina yg berani negur.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Apalagi anak saya yg baru 5 tahun, sudah bisa buka-buka hp n download sendiri

      Delete
  6. Kalau pornografi saya nggak sungkan tegur langsung karena nggak ada keren & lucunya sama sekali. Tp untuk hal2 lain, teguran bisa dilakukan 4 mata, tidak dg mempermalukannya didepan umum. Saya sgt jarang menegur dg cara sindiran, buang2 waktu & mudharat heheee.... Kalau bisa tegur langsung, kalau nggak bisa ya diam.

    ReplyDelete
  7. Karena klo sindiran tuh yang disindir kadang kagak ngeh..
    Enakan to the point yah mb^^

    ReplyDelete