Sunday, 15 November 2015

Pilih Pinter atau Berkarakter?

Orang pinter tuh banyak banget di jagat ini. Tapi yang namanya orang yang berkarakter, belumlah sebanyak orang pinter. Gampang banget kok untuk mengenalinya. Orang yang pinter tentu bisa mencapai tingkatan target kehidupan tertentu. Tetapi belum tentu ia mempunyai karakter. Contohnya seorang karyawan yang bekerja di sebuah perusahaan, pasti ia orang yang pinter. Kalau gak pinter, dia ga bisa lolos tes perusahaan dong... Tapi belum tentu berkarakter. Buktinya belum tentu ia bersedia antri. Atau belum tentu ia berpamitan secara baik-baik ketika harus meninggalkan perusahaannya. Nah untuk yang terakhir ini, saya pernah merasakan akibatnya. Di lebih dari satu perusahaan yang mana saya pernah bekerja, saya belum pernah bertemu untuk serah terima pekerjaan dengan orang yang saya gantikan. Wah, rempong banget rasanya. Harus meraba sana-sini dengan meminimalkan kesalahan. Ibarat berjalan di lorong yang gelap, semua serba mencari sebuah cahaya. Seandainya ada flow chart pekerjaan atau sejenisnya, tentu hal itu bukan suatu masalah. Tinggal mempelajari flow chart itu saja pasti bisa. Tapi ternyata hal itu tidak ada. Mau tidak mau saya harus mengerahkan segala pikiran dan tenaga. Mundur? Tidak. Terus berjalan meski tertatih dan kadang membuat kesalahan di sana-sini. Untuk menghibur diri, ya wajar, begitu pikir saya. Saya toh sedang mempelajarinya dengan tanpa petunjuk maupun serah terima dari orang yang saya gantikan. 
Saya rasa, bukan hanya saya yang pernah mengalami hal ini. Ga usah galau, friends! Inilah hidup yang harus dijalani saja. Yang penting, jangan pernah menjadi orang yang nggak berkarakter itu. Buang jauh-jauh deh keinginan buat resign tanpa pamit. Di samping namamu bakal jelek di mata perusahaan, juga akan merugikan orang yang menggantikanmu. Ga menjamin kan, suatu waktu di masa mendatang kamu akan kembali bertemu atau bahkan membangun sebuah relationship dengan orang-orang di masa lalu yang pernah tau kalau kamu pernah pergi tanpa pamit? Andai itu terjadi, kami pasti sudah dicoret tebel banget dengan insert comment bahwa kamu adalah orang yang tidak bisa dipercaya alias lari dari tanggung jawab. Iya betul, meski kamu tidak mencuri aktiva atau menghapus data atau apa pun. Well, hal konyol,pergi tanpa pamit tapi akibatnya fatal banget ya?! Padahal jika kamu gentle, kamu tinggal meluangkan waktu untuk berpamitan dan melakukan serah terima. Simple, but di situlah karaktermu terbangun. Dan tentu saja, jadi salah satu investasi dalam hidupmu bahwa kamu bisa dipercaya dan tidak lari dari tanggung jawab.
Back to cerita saya, bukan sekali saya menemukan perusahaan dengan keadaan demikian. Maksud saya keadaan yang mana ditinggal resign salah satu karyawannya dengan begitu saja. Artinya kan sudah mengkhawatirkan karakter kebanyakan. Ah, saya jadi berandai-andai jika suatu saat saya berkesempatan berkarir di lingkup HRD, tentu saya akan menekankan point karakter sebagai point utama selain pinter. Karakter bisa dilihat ketika kita wawancara. Juga bisa dilihat dari akun media sosial yang dimilikinya. Dulu saya pernah bekerja di mana setiap kali proses wawancara, boss saya selalu menanyakan akun sosial media yang dimiliki si pelamar kerja. Mulanya hal itu aneh bagi saya. Lambat laun, saya paham bahwa melihat media sosialnya, kadang sedikit banyak kita bisa mengetahui bayangan karakter seseorang. Tidak 100%, tapi lumayan ada referensi bayangan karakter sehingga bisa sebagai salah satu unsur untuk memutuskan seseorang itu diterima kerja atau tidak. 
Misalkan saja seseorang yang meninggalkan perusahaan tanpa pamit dan tidak meluangkan waktu untuk serah terima itu dikenakan denda, apakah hal ini bisa mengurangi perilaku yang kurang sopan tersebut?
Jadi mau pilih yang pinter atau berkarakter? Atau mau yang pinter dan berkarakter sebagai individu yang utuh?

8 comments:

  1. Kalau diminta memilih saya memilih yg berkarakter Mak. Cause keahlian/kepintaran bisa diasah seiring berjalananya waktu. Tapi karakter itu agak sulit diubah klo dia tidak mau berniah mengubahnya.

    Iya Mak, paling egak liat akun sosmed keliatan jadi tahu bagaimana karakter saat berinteraksi via social media :D
    Salam kenal Mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Setuju, mak. Skill bisa diasah tapi karakter biasanya sudah melekat. Salam kenal juga;)

      Delete
  2. memang susah mencari orang yang berkarakter yah mbak?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di jaman sekarang ni susah, mak. Tapi masih ada kok:)

      Delete
  3. yup, yg berkarakter aja deh, ni lg berusaha menanmkan karakter sm si kecil, doain berhasl yak :)

    ReplyDelete
  4. Maunya pinter dan berkarakter ya heheeee. Jadi bisa 100% diandalkan.

    ReplyDelete