Friday, 19 February 2016

Slow Down, Yuk!

Setiap orang pasti punya standar. Standar dalam hal apa saja pastinya. Standar kebersihan, standar kelayakan hidup, standar pencapaian nilai dan standar lainnya. 
Ternyata setelah dilihat lebih universal, tidak hanya manusia sebagai individu yang mempunyai kaidah standar. Sebuah instansi, perusahaan, komunitas ataupun kumpulan individu lainnya pun mempunyai standar. Standar itu bisa berupa standar pelayanan, standar gaji, standar gaya hidup, atau standar lainnya.
Tapi bahasan kali ini saya fokuskan ke standar individu saja. Lebih aplikatif bagi setiap orang rasanya.
***
Seseorang mempunyai standar di rumahnya berupa rumah harus rapi, bersih dan wangi. Untuk mencapai itu, kadang ia rela merogoh uang yang lebih besar atau mengeluarkan ekstra tenaganya. Cerita menjadi berbeda ketika tiba-tiba hadir seorang anggota penghuni rumah yang belum mengerti bagaimana standar di rumah tersebut. Contohnya kehadiran seorang anak. Dahulu sebelum anak hadir dalam kehidupannya, bisa saja ia menilai negatif pada setiap rumah yang tidak sebersih rumahnya, yang tidak serapi rumahnya dan tidak sewangi rumahnya. Meski kadang penilaian itu hanya di dalam hati, tapi tentu saja itu merupakan lintasan yang negatif. Dengan standar yang tinggi itu berakibat ia tidak lagi enjoy memiliki anak dan mungkin sedikit uring-uringan. Jika suatu ketika ia terpaksa menginap di rumah yang standarnya di "bawah" itu, bisa dipastikan ia akan tersiksa karena merasa berada di rumah yang tidak layak untuk ditinggali. Lantas bagaimana agar tidak merasa tersiksa? Jawabannya hanya satu, slow down, yuk! Turunkan standarnya. Ketika ia sedikit menurunkan standar, maka ia bisa menikmati rumahnya dengan segala keriuhan anggota baru yang membuat tidak bersih, rapi maupun wangi. Ia juga enjoy menginap di mana saja dan dengan keadaan apa pun tanpa merasa tersiksa. Tetapi, penurunan standar ini juga jangan sampai terlalu drastis yang berakibat ia menjadi seseorang yang begitu jorok.
Lain lagi ketika seseorang bersifat perfeksionis dalam hal akademis. Ia akan belajar mati-matian untuk memperoleh nilai yang bagus, kalau bisa memperoleh nilai tertinggi malah. Bisa ditebak jika ternyata ia memperoleh nilai tinggi tapi bukan yang tertinggi. Apalagi jika ia bahkan memperoleh nilai yang tidak memuaskan, bisa dipastikan ia akan terus terbawa perasaan tidak nyaman. Slow down, yuk! Pasti perasaan tidak nyaman itu akan hilang. Manusia hanya berhak berproses, bukan menentukan hasil akhirnya. Slow down, yuk! menatap hasil akhirnya meski sudah berjuang keras pada prosesnya.
***
Slow down, yuk! Tetapkan standar pada tempat yang semestinya. Jangan terlampau tinggi atau rendah.


4 comments:

  1. Perbanyak bersyukur dan selalu berbaik sangka maka standard itu akan pudar dengan sendirinya....

    ReplyDelete